Kamis, 10 November 2016

REVIEW THE SWORD of SUMMER

Magnus Chase and the Gods of Asgard #1: The Sword of Summer – Rick Riordan


Palembang, 10 November 2016

 
Judul                     : Magnus Chase and the Gods of Asgard #1: The                                      Sword of Summer
Penulis                  : Rick Riordan
Penerjemah         : Reni Indardini
Penerbit               : Noura Books
Terbit                    : Cetakan pertama, Oktober 2015
Tebal                     : 623
Rate                       : 4/5
 
 
“Aku tahu rasanya menjadi cangkir kosong, merasakan semua yang kita miliki dirampas. Tapi, kau tidak sendirian. Sebanyak apa pun sihir yang pelu kaugunakan, tidak apa-apa. Akan kami lindungi kau. Kamu keluargamu.” –Magnus Chase and the Gods of Asgard #1: Sword of Summer, hlm. 532

Sudah dua tahun Magnus Chase menggelandang di jalanan Kota Boston. Tidur dengan beralasan kantong tidur di tengah suhu ekstrem. Berkawan dengan dua tunawisma lainnya, Blitz dan Hearth. Ia berusaha melarikan diri dari kejaran polisi, kalau-kalau mereka mengenali wajahnya yang nampak familier.Kematian ibunya tak ayal membuat Magnus melarikan diri. Ia masih mengingat serigala bermata itu merangsek lewat jendela. Sementara ibunya menjadi sasaran,  ia menyuruh Magnus meloloskan diri melalui pintu.
Hingga hari perlik itu tiba, Paman Randolph—saudara laki-laki ibunya yang menjengkelkan—menemukan Magnus dan memberitahunya tentang sebuah rahasia; membawa Magnus ke dalam griya tawang warisan keluarga—tempatnya menyimpan relik-relik para Dewa Nordik.
Paman Randolph berkata kalau Magnus adalah putra dewa. Dari mulanya tak percaya, lantas keduanya diperhadapkan pada serangan seekor makhluk raksasa bernama Surt. Surt menginginkan Pedang Musim Panas milik Magnus yang merupakan warisan ayahnya, Dewa Frey.  Magnus bertarung hingga titik darah penghabisan. Surt mengempaskan dirinya, menghantam permukaan Sungai Charles.
Paman Randolph dan para kerabat mengira Magnus telah tewas. Namun, semuanya baru saja dimulai ketika ia terbangun di Valhalla.
 
 
Seperti kata Rick Riordan:
“Mitologi pada dasarnya adalah cerita mengani kebenaran yang sudah kita lupakan.”–Magnus Chase and the Gods of Asgard #1: Sword of Summer, hlm. 31

Sudah lama pula rasanya tidak menyentuh area mitologi setelah banyak berjibaku dengan buku-buku roman dan misteri. Sekilas dari segi lini ide, seri “Magnus Chase and the Gods of Asgard” punya kemiripan dengan novel “American Gods” karya Neil Gaiman. Perbedaannya dari unsur pendekatan, “American Gods” yang terkesan dewasa, memilih bercerita lewat genresedikit horor dan gotik; “Magnus Chase and the Gods of Asgard” karya Rick Riordan yang terkenal dengan keseruannya dalam bercerita, tetap konsisten pada genre-nya yang menyerempet pada humor.Plot bercerita yang digunakan Rick Riordan dalam “Magnus Chase and the Gods of Asgard: The Sword of Summer” pada dasarnya mirip dengan yang ia gunakan pada seri “Percy Jackson and the Lightning Theif”. Mulai dari perkenalan tokoh, keterlibatan pada sahabat di dunia nyata yang sesungguhnya memiliki andil di dunia para dewa, konflik yang melibatkan perebutan senjata berupa pedang, klimaks, dan anti-klimaks. Hanya saja perbedaannya terletak pada pemilihan dewa yang diambil; Percy Jackson dengan ayahnya yang seorang Dewa Yunani; Magnus Chase dengan ayahnya yang seorang Dewa Nordik.
Mulai dari pencetusan rahasia Magnus mengenai dirinya yang seorang demi-god (separuh dewa), “The Sword of Summer” mengambil konflik yang sifatnya berkait dengan cakupan yang berkonklusi pada sebuah penyelesaian masalah besar di bagian akhir. Mulai keberadaan dirinya di Valhalla, yang menjadi gunjingan dan bahan kesirikan dari para penghuninya, lalu petualangannya pun dimulai ketika ia melarikan dari dengan menuruni Pohon Dunia menuju Boston, hingga akhirnya ia harus melawan rasa takutnya terhadap Serigala Fenris.
“The Sword of Summer” dapat dikatakan sebagai karya pertama dari Rick Riordan yang saya baca. Kendati sebelumnya pernah menonton versi film dari Percy Jackson, tetapi dalam deretan kata, Rick Riordan memiliki ciri khas dari segi bercerita. Seperti dari penggunaan bahasa yang sangat ringan, humor-humornya yang sedikit basi tapi terbaca sangat lucu, lalu narasinya yang terkesan ceplas-ceplos—terasa pas dengan pemilihan karakternya yang berusia enam belas tahun. Kendati demikian, Rick Riordan memilih topik yang cukup berbobot dan menantang. Seperti seri “His Dark Materials” karya Philip Pullman, yang sama-sama berbasis pada cerita petualangan fantasi, tetapi penyajian ceritanya cukup berat dan bertele-tele, sehingga kadang merasa bosan di beberapa bagian. Berbeda dengan gaya bercerita Rick Riordan, walau punya ceritanya terbilang berpola seperti buku-buku sebelumnya, tapi tiap buku, contohnya dalam “The Sword of Summer”, ia selalu saja menyelipkan humor dan penokohan unik yang berbeda-beda.
Dari segi penyajian alur, “The Sword of Summer” diceritakan dengan alur maju, lewat sudut pandang satu orang, Magnus Chase yang bertindak sebagai tokoh utama sekaligus narator. Di awal, pada bagian prolog, plotnya ada sedikit mundur, yang mana Magnus Chase mencoba menyatakan kalau dirinya mengalami petualangan menegangkan ketika ia meninggal, lantas ia membeberkan segalanya dari awal, ketika Blitz dan Hearth, dua temannya yang sama-sama gelandangan, mengatakan kalau ada dua orang yang membagi-bagikan selebaran tentang dirinya. Tapi, lantas cerita tersebut disambung dengan sederet hal-hal menegangkan dan introduksi-introduksi lucu tentang penghuni Valhalla.
Kalau dari kadar jenuh, “The Sword of Summer” malah tidak terkesan menjenuhkan di bagian awal; bagian perkenalan tokoh yang kerap kali di buku lain, bagian inilah yang sering membuat pembaca menjadi ciut dan enggan melanjutkan petualangan. Namun, “The Sword of Summer” dibuka dengan kata-kata sarkastis, sehingga mau tak mau pembaca jadi terasa dikompori, penasaran, sekaligus dibuat tertawa tentang penjelasan-pejelasan yang seharusnya dinaungi emosi sedih malah diceritakan dengan makian.
Rick Riordan memakai teknik yang berpola dalam “The Sword of Summer”. Seperti halnya Percy Jackson. Magnus Chase pun diceritakan punya umur yang tidak terlalu jauh berbeda. Masih berumur belia. Tapi, yang saya sukai dari kesinkronan tokoh dan book jacket-nya adalah pada sosok Magnus yang digambarkan Rick Riordan, yang mana ia mendeskripsikan Magnus Chase yang memiliki wajah mirip Kurt Cobain, lengkap dengaan rambut pirangnya yang sedagu. Dan, voìla! Magnus yang mirip Kurt Cobain itu pun muncul di sampul depannya.
Lantas, kedua temannya, Blitzen dan Hearth yang awalnya saya anggap tidak punya andil terlalu banyak juga punya peran yang sama dengan guardian dari Percy Jackson, yang diceritakan sahabat dekatnya di kelas. Banyak kemiripan-miripan antara Percy Jackson dan Magnus Chase sesungguhnya. Tapi, yang cukup berbeda adalah mengenai pemilihan dewa. Percy yang dijelaskan seorang putra dari Poseidon dengan mudahnya dibayangkan dan sudah terlampau dikenal oleh masyarakat. Tetapi, dalam “The Sword of Summer”, Magnus diceritakan sebagai seorang demi-god dan seorang putra dari Dewa Frey—dewa Nordik yang jarang dibicarakan di konteks-konteks umum, tapi lewat penggambaran dari seorang Rick Riordan, keberadaan Dewa Frey sekaligus kembarannya, Freya merupakan pengetahuan baru lagi bagi pembaca.
Rick Riordan pun banyak menyinggung Thor. Membandingkannya dengan sosok di teve, yang kekar, berambut pirang. Lantas membuat versinya sendiri yang digambarkan jauh dari sosok heroik yang diangkat oleh komik Marvel.  Banyak fakta-fakta tentang Thor yang mampu mengocok perut pembaca. Dan seperti kala Rick Riordan menggambarkan Hades mirip Mick Jagger, sekonyol itulah kira-kira Thor digambarkan.
Satu hal lagi yang perlu diacungi jempol dari cerita-cerita karya Rick Riordan, yaitu latarnya. Kali ini ia memilih Boston sebagai sebuah tempat yang menjadi incaran para dewa Nordik.

“Magnus, para penjelajah Nordik datang ke sini untuk mencari poros dunia, akar Pohon Dunia.” – Magnus Chase and the Gods of Asgard #1: Sword of Summer, hlm. 36

Boston digambarkan sedemikian rupa dan memiliki banyak kultur di dalamnya. Mengenai pemilihan tokoh Samirah, sesungguhnya, cerita ini menjadi semakin menarik. Banyak perbedaan budaya, antara Timur Tengah dan Barat. Lantas, nama tiap blok di Kota Boston pun dapat disulap oleh Rick Riordan menjadi tempat-tempat bernama unik yang terdengar sangat Nordik.Secara keseluruhan, walau saya bukan penyuka cerita petualangan yang ruwet. Tapi, “The Sword of Summer” masih dapat dinikmati. Lewat alur, banyak cerita-cerita mitologi yang dapat menjadi informasi. Istilah-istilah yang tedengar asing pun dijelaskan satu per satu di bagian glosarium. “The Sword of Summer” adalah pembuka yang seru bagi seri petulangan Magnus Chase.

REVIEW THE SERPENT'S SHADOW


The Serpent’s Shadow (Kane Chronicles #3) By Rick Riordan




Penerbit : Hyperion Books
Tebal : 406 Halaman
“Sadie Kane here.
If you’re listening to this, congratulations! You survived doomsday.
I’d like to apologize straightaway for any inconvinience the end of the world may caused you. The earthquakes, rebellions, riots, tornadoes, floods, tsunamis, and of course the giant snake who swallowed the sun. I’m afraid most of that was our fault. Carter and I decided we should at least explain how it happened.”
Haha, typical Sadie banget. Miss them (Sadie & Carter)? I do. Dan akhirnya kita sampai kepada buku ketiga dari Kane Chronicles. Setelah The Red Pyramyd & The Throne of Fire, buku ketiga ini berjudul The Serpent’s Shadow yang secara garis besar udah mewakili isi cerita.
Buat yang ketinggalan seri ini, secara garis besar ceritanya dewa dewi mesir adalah nyata dan mereka sampai saat ini masi berkeliaran di muka bumi. Adalah Sadie & Carter Kane, kakak beradik yang ternyata merupakan titisan Isis dan Horus yang menjadi ujung tombak keselamatan dunia dari doomsday.
Doomsday? Iya, sang lord of chaos alias aphopis yang seringkali digambarkan dengan wujud ular raksasa (serpent) sedang merencanakan untuk mengembalikan kondisi dunia yang kita tinggali ini ke nothingness alias “kegelapan”. Caranya adalah dengan menelan matahari.
Dalam The Throne of Fire Sadie dan Carter menaruh harapan pada Ra. Sang dewa matahari yang tertolong dewa tertua dalam mitologi mesir. Pada akhirnya mereka super duper kecewa karena menemukan Ra telah menjadi orang tua (banget) yang sudah kembali ke mental anak-anak dan lupa akan segala kedewaannya. Di masa jayanya Ra tidak berhenti melakukan perjalanan dari langit hingga dunia bawah untuk memastikan matahari tetap terbit dan dunia berjalan seperti biasa. Ra dulu adalah dewa dari segala dewa.
Sekarang beban mereka bertambah dengan keharusan untuk mengasuh Ra (yang kelakuannya balik seperti balita) dan memastikan Ra tetap aman karena aphopis mengincarnya. Tugas mengasuh Ra jatuh ke tangan Zia,  salah seorang remaja perempuan magicians yang ditaksir oleh Carter.
Markas Sadie & Carter bernama Brooklyn House, disana mereka mengumpulkan para magicians muda untuk berlatih. Fyi, dunia para magicians sekarang terbelah menjadi dua kubu. Salah satunya adalah kubu para pemberontak yang berambisi menghancurkan perkumpulan, termasuk Brooklyn House dan Kane bersaudara. Jadi para penyihir mudah tersebut harus berlatih untuk membela diri.
Ketika harapan mereka habis setelah melihat kondisi Ra. Alternatif lain untuk menghancurkan aphopis muncul, yaitu dengan menemukan bayangannya. Dalam mitologi mesir ada tiga bagian penting dari suatu individu. Jasad fisik, jiwa dan bayangan. Jika suatu individu mati, maka jasad fisiknya akan hancur dan jiwanya pergi ke alam bawah. Namun jika individu tersebut ketika hidup berkesempatan untuk menyembunyikan bayangannya, maka suatu hari ia masih dapat dibangkitkan dengan memanggil bayangannya. Ini juga berlaku untuk para dewa dewi mesir.
Aphopis pernah menyembunyikan bayangannya. Dengan menghancurkan bayangannya maka mereka juga akan menghancurkan aphopis. Namun segalan catatan tentang dimana aphopis menyembunyikan bayangannya telah dihancurkan. Satu2nya yang mengetahuinya adalah penulis catatan2 tersebut. Seseorang super duper licik yang kini telah menjadi hantu, Setne namanya. Bahkan para dewa dewi pun telah berkali2 terperdaya oleh tipuan Setne.
Namun ini adalah pilihan terakhir. Mereka harus meminta tolong Setne atau dunia akan kiamat. Walaupun kemungkinan besar yang bersangkutan akan menusuk mereka dari belakang.
Buku Rick Riordan memang ngga pernah ngebosenin. Walaupun tipical plot serial fantasy gini sang jagoan pada akhirnya akan menang tapi tetep aja bikin penasaran ngga ngebosenin. Ending cerita ini juga memungkinkan buat munculnya seri lain dari cerita Kane bersaudara seperti halnya dengan The Heroes of Olympus nya Percy Jackson series.
Saya suka banget dengan buku2 Rick Riordan. Ending buku ini pun masuk dalam kategori memuaskan. Tinggal nunggu buku ketiga dari The Heroes of Olympus, Mark of Athena. Bikin penasaran banget!!

REVIEW THE THRONE of FIRE

(Review) Kane Chronicles #2: The Throne of Fire by Rick Riordan.


Palembang, 10 November 2016





- Judul: The Throne of Fire.
- Seri: Kane Chronicles.
- Seri ke: 2 (Dua).
- Pengarang: Rick Riordan.
- Bahasa: Indonesia (Terjemahan) 
- Penerjemah: Rika Iffati Farihah.
- Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi).
- Tebal: 484 Halaman.
- ISBN: 978-979-433-677-9.
- Bintang: 5 of 5.


- Sinopsis:

Pertarungan melawan Kekacauan terus berlanjut. Sejak Dewa-Dewa Mesir terlepas ke dunia modern, Carter dan Sadie Kane terlibat banyak masalah. Dan kini, Dewa Apophis, musuh mereka yang paling berbahaya, akan segera bangkit. Satu-satunya cara untuk menghentikan Apophis adalah dengan membangkitkan Ra. Masalahnya, tidak ada yang tahu di mana Ra. Bukan hanya itu, untuk membangkitkan Ra mereka juga harus menemukan tiga gulungan dari Kitab Ra dan mempelajari mantra yang tepat untuk bisa membacanya.

Narasi Sadie dan Carter Kane, humor-humor unik ala mereka dan petualangan ke seluruh dunia akan membuat kalian tenggelam dalam Petualangan Kane bersaudara yang sensasional.


- Review:

sebenernya agak malu juga sih, kenapa telat banget baca buku satu ini, padahal berani mengaku-ngaku maniak nya Riordan :p. tapi bukan tanpa alasan kok aku nunda baca buku satu ini, aku menunda nya karna lagi nungguin buku ke-tiga nya yang alhamdulillah udah terbit bulan kemaren (tapi aku belum beli) *miris T_T. 

di buku kedua ini, cerita aslinya masih berupa rekaman yang di rekam oleh dua kakak-beradik Kane, yaitu Carter dan Sadie, yang kembali Rick Riordan temukan dan tulis dan kemudian menjadi buku Throne of Fire ini. beberapa bulan setelah kejadian piramida merah, mereka (Carter dan Sadie) akhirnya bisa mengumpulkan beberapa penyihir baru yang datang berkat mendengarkan rekaman yang  menceritakan tentang piramida merah (Red Pyramid). para penyihir baru ini, mereka belum terlatih. maka mereka yang datang pun akhirnya di latih oleh Carter dan Sadie di Nome 21 (amerika).

cerita bermula, ketika Carter, Sadie, Walt, Jaz *murid baru mereka* dan Khufu *babun pelangi mereka :D* mencuri meminjam sebuah artefak yang ada di sebuah museum, untuk mereka teliti. tapi naas, bukannya sepi, museum itu malah ramai ketika tengah malam, gara-gara ada sebuah resepsi pernikahan yang diadakan di museum. tapi mereka tak kehabisan akal, mereka berhasil memasuki museum itu dan mendapatkan barang yang mereka cari, tepat setelah itulah masalah terjadi. kutukan yang menjaga benda itu pun aktif dan muncul lah beberapa monster yang ingin menghabisi mereka. walaupun mereka berhasil keluar, tapi harga nya terlalu besar untuk dibayar, selain membuat benda itu serta tangan Sadie terbakar dan menyala-nyala. murid mereka, Jaz harus menyembuhkan Walt dan menghadang monster sendirian. dan akibatnya Jaz pun sekarat.

sebenarnya untuk apa sih gulungan Ra itu? gulungan Ra sebenarnya adalah kunci, untuk membangkitan Raja para Dewa Mesir yang sudah lama pensiun yang bernama Ra. Ra dikenal sebagai satu-satunya Dewa yang mampu melawan Ular kekacauan bernama Aphopis. kalau kalian sudah membaca Red Pyramid, pasti kalian tau kalau dalang sebenarnya dari pembangunan Piramida merah itu adalah Aphopis. Aphopis berencana untuk menelan matahari (Ra) agar dunia ini hancur, dan dia dapat menjadi penguasa dunia yang baru *motif setiap penjahat memang gak jauh berbeda*. jadi itulah alasan mereka ingin membangunkan Ra dari masa pensiun nya. mereka berharap dengan bangunnya Ra, mereka bisa melawan Aphopis dan menyelamatkan Dunia. tapi mengumpulkan Kitab Ra ternyata tidak mudah, walaupun berhasil mendapatkan satu di museum Brooklyn, mereka harus mencari dua kitab lainnya di belahan bumi yang lain.

kalau sebelumnya kita suda bertemu beberapa Dewa seperti Horus, Isis, Set, Osiris, Bast dan lain-lain, kini kita kembali dipertemukan dengan beberapa Dewa-Dewi baru, dari yang jahat sampai yang baik, ada Bes si Dewa Cebol, Tawaret, Dewi berbadan kuda nil yang baik. Nekhbet, si Dewi burung bangkai yang ingin memakan mereka. Babi, Dewa para Babun yang merasuki kakek Sadie dan Carter. dan Khonsu si Dewa Bulan yang licik. dan banyak lagi. *gak bisa kesebut satu2. dan ada pula musuh dari kalangan penyihir, seperti Vlad si Bengek, dan Desjardins, musuh lama mereka. sekarang akhirnya aku mulai mengerti sedikit-sedikit tentang mithologi mesir, yang bahkan di wikipedia pun sangat susah untuk mencari info seputar mith mesir. tapi Rick Riordan berhasil bikin kita belajar beberapa mithologi sekaligus, tanpa merasa terlalu pusing untuk memahaminya.

menurutku, ini menurutku lho ya... kekurangannya cuman di bagian percintaan *maklum, namanya juga anak2*. Hubungan Carter dan Zia yang di Red Pyramid udah berkembang, eh... ternyata Zia yang itu tembikar yang bisa bergerak yang *shabty*. begitu sudah bertemu yang asli, Zia gak ingat sama sekali sama Carter, karena memang mereka belum pernah bertemu secara langsung. dan Carter pun terpaksa harus mengulang semuanya dari awal *puk2 Carter.  dan kisah Sadie pun tak kalah rumit, dia terjebak diantara dua cowok ganteng, yang satu Dewa kematian, yang satu malah sekarat dan menunggu kematian *benar2 pilihan yang membingungkan*. hah... kisah mereka benar2 menggantung dan akhir buku duanya tak terduga. semoga di buku ke-tiga cerita mereka happy ending. dan semoga aku berhasil menemukan buku ke-tiganya secepatnya. penasaran nih. mana di buku ke-tiga yang ver indonesia nya ada bonus side story nya Carter ama Percy lagi :3 *dua cowok ganteng favoritku XD*.

REVIEW THE RED PYRAMID

Review : The Red Pyramid oleh Rick Riordan


Palembang, 10 November 2016

Judul : The Red Pyramid
Judul Asli : The Red Pyramid
Pengarang : Rick Riordan 
Penerjemah : Aditya Hadi 
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Mizan Fantasy
Tebal : 518 halaman
Diterbitkan pertama kali : September 2010
Format : Paperback
Target : Semua Umur

Genre : Fantasy 
Serial : The Kane Chronicles, buku ke-1
Web pengarang : Click here
Beli di : Mizan , Bukukita, Bukabuku






Sinopsis : 


Sang manusia api melambaikan sebelah tangannya. Lingkaran biru di kaki ayah menjadi gelap. Ayah berusaha meraih kotak peralatannya dengan susah payah, namun kotak itu tercecer di lantai. Dengan jentikan tangannya yang lain, manusia api itu menyulap sebuah peti mati bercahaya yang mengurung ayah kami. Ayah menatapku untuk terakhir kalinya, dan menggumamkan sebuah kata:

LARI!

Yang disaksikan Carter dan Sadie malam itu benar-benar mimpi buruk. Seorang manusia api mengurung ayah mereka di dalam sebuah peti mati dan menenggelamkan peti itu ke dalam bumi.
Kedua kakak beradik itu pun terjebak dalam sebuah petualangan menegangkan yang akan menguak rahasia keluarga mereka.

Sebelum menghilang, ayah mereka telah membangkitkan lima dewa Mesir kuno. Dan kini, salah satu dewa Mesir yang suka membuat onar, Set, mengincar nyawa Carter dan Sadie. Dengan hanya berbekal sedikit pengetahuan tentang kekuatan magis yang mereka miliki, mereka terus berjuang untuk menyelamatkan diri mereka dan mencari ayah mereka. Mengapa Set mengincar nyawa mereka? Mampukah mereka menemukan ayahnya?
 
Review


Kayaknya saya termasuk yang telat banget baca karya Om Rick Riordan. Dan itu juga saya mulai bukan dari seri Percy Jackson yang legendaris itu (sampai dibuat filmnya, lho. Dan kayaknya di fanpage Mizan sendiri, pertanyaannya pasti ga jauh - jauh dari seri Percy Jackson), melainkan dari seri Kane Chronicles. Dan.. saya nyeseeeeel banget ngga baca ini sejak dulu. Padahal bukunya sendiri sudah ada sejak bulan Januari 2012 X) (bisa dibaca proses saya mendapatkan buku ini di "Berburu buku di Leksika"). Istilah"blown away" kayaknya pas lah buat menggambarkan perasaan saya sehabis baca ini . Penasaran kenapa?



Inti cerita The Red Pyramid adalah petualangan dua bersaudara Kane, Carter (14 tahun) dan Sadie (12 tahun) yang harus menyelamatkan dunia setelah ayah mereka membangkitkan lima dewa - dewi Mesir Kuno (Osiris, Isis, Horus, Set dan Nephtys). Dalam perjalanan mereka, Carter dan Sadie mendapati kalau mereka itu keturunan para Fir'aun dan tubuh mereka bisa menjadi perantara dewa, dimana Carter dirasuki Horus, sedangkan ibu Horus, Isis memasuki tubuh Sadie. Ayah mereka dirasuki oleh Osiris dan ditawan oleh Set yang jahat. Sembari mempelajari kemampuan baru mereka dalam sihir dan ilmu bertarung, Carter dan Sadie yang dibantu oleh Dewi Kucing, Bast, harus berpacu dengan waktu. Pertama, menyelamatkan ayah mereka yang disandera Set. Kedua, menghalangi ambisi gila Set untuk menguasai dunia dengan piramida merahnya di kota Phoenix. Dan mereka berdua cuma punya waktu lima hari untuk itu. Sementara di sisi lain, Dewan Kehidupan,  orang - orang yang menentang keras campur tangan dewa juga terus menghalangi Carter dan Sadie.

Huff, dari inti ceritanya saja sudah berasa serunya ya? Om Rick ngga tanggung - tanggung pas membuka adegan di The Red Pyramid. Kalau istilah bahasa Inggrisnya sih, "it starts with a bang!". Adrenalin kita sudah dipacu sejak awal ayah Carter, Julius, dan Carter tiba di London. Misteri sudah menyelimuti pikiran pembaca, kita dibuat menebak - nebak apa yang akan dilakukan dua orang ini. Dan, jangan salahkan Om Rick, kalau kita dibuat ngga berhenti sama sekali membaca, ga sabaran membalik halaman - halaman yang ada dalam buku the Red Pyramid, karena ingin tahu apa yang terjadi pada Carter dan Sadie.


The Red Pyramid diceritakan dari POV (Point of View, sudut pandang) orang pertama. Karena tokoh utamanya ada dua, maka cerita di The Red Pyramid (TRP) diceritakan bergantian dari sudut pandang Carter dan Sadie. Lucunya, di awal - awal buku udah diceritakan kalau semua tulisan di buku TRP ini berdasarkan rekaman audio dari Carter dan Sadie. Maka, jadi lucu banget saat melihat Carter dan Sadie rebutan mix untuk menceritakan kejadian yang terjadi pada mereka. Keduanya bergantian bercerita, dimana masing - masing kebagian jatah yang cukup adil. Tiap dua bab berganti POV. POV orang pertama ini juga membuat kita jadi paham bagaimana karakter Carter dan Sadie.

Carter, hmm dia bener - bener tipikal cowok remaja yang masih nanggung. Walau saya sendiri ngga terlalu tahu tentang gimana perilaku cowok pada umur 14 tahunan (kayaknya saya pas itu lebih tertarik buat naksir mereka, ketimbang mempelajari mereka X) ).Rasa keadilan Carter cukup kuat, tapi layaknya remaja, dia juga bisa panik saat menghadapi musuh. Belum lagi penampilannya yang khas orang Africa-Amerika, beda dengan Sadie, bikin Carter lumayan minder. Carter menguasai ilmu pedang, sedangkan Sadie menguasai sihir, disini sih, saya bisa lihat kalau Om Rick juga memasukkan unsur "sword and sorcery" salah satu cabang genre fantasy dalam TRP, selain mitologi Mesir yang jadi dasar cerita tentu saja.

Sadie, naaah, ini dia tokoh kesukaan saya :D. Ini cewek beneran masih umur dua belas tahun? :O Kok sikapnya ngga kayak anak umur 12 tahun yah (terus kamu dulu pas umur 12 gimana Ren? XD). Sadie cenderung meremehkan Carter, tapi bisa dimaklumi karena setahun hanya ketemu dua kali setelah kematian sang bunda. "Suara" Sadie sangat "renyah", menyegarkan dan enak buat dibaca, level sarcasmnya tinggi, jauh lebih tinggi ketimbang Carter. Tapi itu juga menggambarkan Sadie yang kesepian, iri pada Carter dan mendadak disodori masalah bertubi - tubi, sampai harus menguasai dirinya sendiri dari Isis. Saya rasa sebagai anak umur 12 tahun, Sadie ini keren. Pakai banget. Karena POVnya bergantian, maka ceritanya terkadang jadi overlapping. Di bagian Carter suka menceritakan kembali apa yang terjadi pada Sadie, dan begitu juga sebaliknya.


Karakter yang lain, macam Amos Kane, para anggota Dewan Kehidupan yaitu Zia, Desjardins, Iskandar, dan para dewa, Bast, Thoth, Isis, Horus, Anubis, sampai dengan yang minor - minor macam Sekhmet, Sherqet, Nut, Geb dan Sobek, diceritakan dengan cukup baik. Karakter pendukung favorit saya adalah Bast, sang Mata Ra. Bast ini semacam pelindung Sadie dan Carter, serta setia sama mereka berdua. Lalu ada Khufu, si babun penggemar klub basket Lakers yang cuma bisa "agh ugh agh ugh" aja dan Philip dari Makedonia. Philip ini unik karena dia adalah.. buaya :|.

Om Rick berhasil bikin kita bertanya - tanya, mana sih yang musuh, mana yang kawan. Apakah Set itu bener - bener jahat? Kalau dia jahat, kenapa Thoth bilang kalau Set juga dibutuhkan, bahkan dulunya dia adalah letnan Ra, sang dewa Matahari. Banyak sekali hieroglif di buku ini, yang sayang saya ga sempat crosscheck bener ngganya. Begitu juga mitos dewa dan kehidupan masa Mesir Kuno, Om Rick sih bilangnya beberapa fakta, namun pasti sudah dia modif biar sesuai sama ceritanya. Yang jelas, kalau suka mitologi Mesir, ngiler deh baca buku ini :P~.  Sangat - sangat jarang saya baca karya orang luar negeri yang based on Egypt myth. Salah sedikit dari pengarang yang memakai mitologi Mesir adalah Sherrilyn Kenyon. Agatha Christie juga pernah memakainya untuk novel "Ledakan Dendam".Sadar atau tidak, mitologi Mesir ini menurut saya adalah akar dari mitologi - mitologi dunia karena banyaknya kesamaan dengan mitologi negara lain seperti Mitologi Yunani dan Maya.

Yang suka romance, ehm, ini kan buat semua umur, jadi ya ngga terang - terangan dooong :P. Ada hintsromansa antara Carter dan Zia, lalu antara Sadie dan Anubis yang bikin si Sadie dag dig dug. Saya cuma mikir, "aih kalian ini masih anak - anak, ngapain mikir cinta? =__=". Dan juga "hoo indahnya yang lagi jatuh cinta".  X)))

Kelemahan TRP.. hmmm, saya merasakan sekali tema - tema yang sudah agak sering dipakai. Apa itu?


- Tidak adanya peran orang tua

Apa karena Harry Potter kehilangan orangtuanya sejak kecil, maka seolah peran orang tua di novel fantasy anak - anak dihilangkan? Ngga cuma di TRP ini, serial The Secret of Immortal Flamel yang saya rasa agak - agak mirip dengan buku ini juga sama. Seakan orang tua bukanlah hal yang penting, anak - anak remaja dibiarkan menghadapi masalah mereka sendiri dengan dibantu orang asing, yang nantinya malah jadi pengganti figur ortu. Entahlah, saya kurang sreg aja.

- Waktu yang sangat singkat.
TRP ini mau ngga mau ngingetin saya sama seri The Secret of Immortal Flamel. Semua kejadiannya dalam waktu cuma lima hari, wew!! Mentang - mentang dirasuki dewa, Carter sama Sadie mendadak jadi super duper kuat, sampai tidur bentar aja ngga pingsan. Iya, saya tahu ini cuma fantasy. Tapi, akan lebih enak kalau waktunya tidak terlalu cepat. Mungkin bisa 1-2 minggu minimal (ini kok malah nawar :P)

- Dialog super duper cheesy
Ini banyak dipakai sama yang antagonisnya. Macam "namaku adalah bla, bla,bla. Aku akan membunuhmu, ha ha, hahaha". Yah semacam itu deh. Apa karena dibuat untuk semua umur, makanya beberapa bagian, jatuhnya cheesy.

Kelemahan TRP ada lagi, yaitu di terjemahannya. Saya ga bilang kalau terjemahannya jelek, bagus malah. Cuma banyak "cacat"nya, kayak typo dan pemenggalan kata yang ngga sesuai. Beberapa kalimat terjemahannya juga menurut saya agak kaku. Lalu, ada satu hal yang membuat saya mengernyit, yaitu kata "kilt". Siapa yang tahu kilt"? Nah, apa orang Mesir jaman dulu pake "kilt"? Sementara setelah saya ubek - ubek internet, "kilt" itu asalnya dari Skotlandia, bahkan sejarahnya juga dari Skotlandia abad 16. Kalau menilik asal kata kilt, itu juga dari bahasa Skandinavia. Loh, loh, mana hubungannya sama Mesir?Dari penerjemahnya sih memakai kata "kilt" yang menurut saya itu ngga tepat aja, dan penggunaan kata "kilt" ini cukup mengganggu saya.

REVIEW THE BLOOD of OLYMPUS

(Review) Heroes of Olympus #5: Blood Of Olympus by Rick Riordan.


Palembang, 10 November 2016






- Judul: The Blood Of Olympus.
- Seri: Heroes Of Olympus.
- Seri Ke: 5 (lima).
- Pengarang: Rick Riordan.
- Bahasa: Indonesia (terjemahan).
- Penerjemah: Reni Indardini.
- Penerbit: Noura Books (Mizan F).
- Tebal: 544 halaman.
- ISBN: 978-602-130-671-0
- Rating:  5 of 5 Star.

- Sinopsis: Goodreads 


- Review:

***(Spoiler Alert)***
(for House of Hades and the other). 
  

Huft... akhirnya berakhir juga series yang telah menemani perjalanan hidupku selama 4 tahun ini *tsaah... *lebay. walaupun, jujur ending nya rada kurang memuaskan *kurang panjang maksud nya :v* tapi aku gak ngerasain galau ketika berpisah sama HOO (Heroes of Olympus). malah aku ngerasa agak lega, entah kenapa rasanya berbeda sama ketika aku mengakhiri Series PJO dulu. mungkin juga karna aku berharap bahwa Om Rick bakalan ngebuat series baru yang kembali berhubungan dengan Demigod Yunani. makanya aku gak galau XD.

hah... kita singkirkan dulu angan-angan *khayalan* ku tentang seri baru itu dan kita mulai membahas tentang buku ini saja. Hmm... seperti para pendahulunya, Rick Riordan memang membuat series ini dengan beberapa sudut pandang sekaligus. Kalau sebelumnya, di House Of Hades, mempunyai 7 sudut pandang. kali ini, Rick Riordan hanya membuat lima sudut pandang saja. Jason, Piper, Leo, Reyna dan Nico. yang mana berhasil bikin aku uring-uringan waktu pertama membaca, karna kali ini, sudut pandang Percy ditiadakan T_T. dan baru belakangan aku tahu, kenapa sudut pandang Percy dan Annabeth ditiadakan. tapi sebagai gantinya, aku bertemu dengan sudut pandang baru, Reyna dan Nico, yang mana keduanya sangat-sangat keren XD. aku suka dengan sudut pandang Reyna disini, berasa ngeliat Annabeth versi lebih garang, hehehe...

Oke, begini ceritanya, Setelah berhasil lolos dari Gerha Hades dengan selamat, sekarang para kru kapal Argo-II harus kebut-kebutan menuju Yunani, demi menggagalkan bangun nya sang Ibu Bumi, Gaia. dan dilain pihak, Reyna, Nico dan Pak Hedge berusaha mati-matian untuk membawa patung setinggi dua belas meter ke Camp Half-Blood. agar tak terjadi peperangan antara Demigod Yunani dan Romawi. jadi walaupun kedua tim yang menuju dua tempat yang berbeda, mereka sama-sama punya kesamaan, yaitu harus berhasil mencapai tempat tujuan mereka sebelum tanggal 1 Agustus.

menurut sudut pandang ku yang sotoy ini, Gaia nampak nya sangat terburu-buru sekali dalam menyiapkan kebangkitannya. bagaimana tidak baru saja Percy dkk mengalahkan Kronos di bulan agustus tahun itu, dan tiba-tiba Gaia memutuskan untuk bangun setahun setelah kematian anaknya yang tercinta. padahal Kronos saja perlu empat tahunan agar bisa bangkit, dan dengan sabarnya menunggu hingga Percy berusia 16 tahun. dan Gaia hanya butuh 1 tahun buat bangkit, oh my... beneran deh, dari awal aku selalu nganggep kalo Series ini terkesan terburu-buru banget. tapi apa daya, kecintaan ku terhadap Percy telah membutakan ku, biarlah Percy menderita lagi, asalkan aku bisa melihat dia bersama Annabeth lagi XD *lalu ditenggelemin sama Percy ke laut*

buat yang mengharapkan Happy Ending, selamat... anda mendapatkan nya, dan oh iya, Om Rick juga memberikan satu hadiah lagi pada kalian.... apa itu? yaitu............... CLIFFHANGER. TADAAA.....
penasaran sama apa yang aku maksud sebagai sesuatu yang menggantung itu? ya baca dong bukunya, males banget aku kalo mesti nerangin seluruh isi buku disini. dan lagi aku sekarang udah berubah jadi orang yang anti Sop Iler, karena selain bau *eh?* Sopiler juga tidak bagus untuk kesehatan anda, hehehe... sekian dan terima kasih, sampai jumpa di postingan lainnya, bye-bye...

oh iya, jangan lupa, mulai tahun depan, Om Rick akan mengeluarkan satu seri baru berjudul Magnus Chase, yep... Chase. seperti Annabeth. sebenarnya ada hubungan apakah Magnus dengan Annabeth, well... jawaban kalian akan terjawab tahun depan.

REVIEW THE HOUSE of HADES

The House of Hades (Gerha Hades)


Palembang, 10 November 2016

Judul: The House of Hades (Gerha Hades)
Pengarang : Rick Riordan
Cetakan : 1, 2012
Penerbit : NouraBooks (Mizan Fantasy)



Setelah pembaca dibuat gemes dengan akhir menggantung di buku ketiga seri The Heroes of Olympus: Mark of Athena, Rick Riordan akhirnya menjawab rasa penasaran pembaca dengan menampilkan akhir yang memuaskan di buku keempat ini. Pertempuran besar antara manusia, demigod, dan dewa-dewi Olympus melawan pasukan Titan yang dipimpin oleh Dewi Gaia mulai menjelang. Aroma pertempuran begitu kental di udara, begitu intens di buku keempat ini, begitu rupa sehingga sebuah pertempuran epic nan luar biasa dahsyat antar para dewa pasti akan pecah di buku lima. Semoga buku kelima itu jauh lebih tebal dan lebih seru ketimbang buku kelima seri Percy Jackson, biar puas bacanya. Benar-benar tidak sabar menantikan buku kelima rilis.

Karena buku kelima masih lama, kita puas-puasin dulu dengan buku keempat yang menurut saya sangat memuaskan, benar-benar nggak bisa melepaskan diri sebelum menyelesaikan buku ini. Alur kisahnya sendiri terbagi menjadi dua. Kelompok 1 terdiri dari Jason, Frank, Leo, Hazel, Piper, dan Nico menaiki kapal Argonaut II bergerak dari Roma di Semenanjung Italia menuju reruntuhan Kuil Hades di Yunani. Sementara, kelompok 2 terdiri dari Percy dan Annabeth berpetualang menjelajahi bagian terbawah dari dunia bawah: Tartarus—tempat semua monster berasal. Kedua kelompok membawa misinya masing-masing, keduanya harus bertemu di Kuil Hades dan menutup Pintu Ajal yang telah dikuasai antek-antek Gaea. Musuh telah menyandera Sang Maut sehingga seluruh monster yang telah membuyar di Tartarus terus-menerus mampu mewujud kembali di dunia. Inilah langkah Gaea dalam pertempuran akbarnya.

Petualangan kelompok 1 sepertinya lebih menarik ketimbang petualangan di Tartarus yang begitu suram dan kelam. Kru Argonaut II harus menghadapi lemparan batu dari dewa-dewa gunung yang merupakan anak-anak Gaiea, melawan dewi angin utara dan saudara-saudaranya, bahkan Leo sempar terdampar di sebuah pulau yang membuatnya #ehem jatuh cinta. Bahkan, pembaca bakal dikejutkan oleh pengakuan Nico yang benar-benar tak terduga. Yakin deh, pembaca bakal terkejut dibuatnya. (#spoiler alert). Sementara kawan-kawannya berjuang menghadapi dewa-dewi alam suruhan Gaea. Percy dan Annabeth perlahan-lahan berusaha mencapai Pintu Ajal dari sisi Tartarus. Sebagai alam tempat asal monster, Tartarus adalah rahim dari kegelapan, tempat dimana kejahatan, monster, dan seluruh mahkluk-mahkluk jahat berkumpul, terurai, dan mewujud kembali. Keduanya harus berjuang melawan monster-monster yang telah mereka kalahkan, dengan kondisi tubuh yang lelah dan payah. Tetapi, persahabatan senantiasa menawarkan bantuan. Percy dan Annabeth bertemu Bob, seorang eh sesosok Titan yang mengalami amnesia dan lalu menjadi sahabat mereka.

Secara aksi, buku keempat ini banyak menyosot sisi psikologis dari ketujuh (atau delapan jika Nico dihitung) demigod kesukaan kita. Tentang Hazel yang belajar menguasai warisannya, Frank yang harus mengemban tanggung jawab baru, Jason yang harus memilih antara Yunani atau Romawi, Piper yang mempertanyakan kembali perannya dalam tim, Leo yang jatuh cinta, dan Nico yang harus menerima dirinya apa adanya. Semua demigod unyu ini seolah ditempa dan bertumbuh kembang dalam perjalanan mereka. Tentu saja, ceritanya tidak kemudian menjadi garing karena Riordan piawai sekali menyisipkan elemen kejutan dan adegan-adegan seru.

Nilai sangat plus dari buku ini adalah kesegarannya dalam membahas sesuatu yg kuno dengan cara yang sangat baru. Buku ini membuat pembaca muda dan tua mau membuka kembali pelajaran sejarah, khususnya tentang mitologi bangsa Yunani kuno. Dengan gayanya yang kocak, penulis mengisahkan bagaimana kondisi dewa-dewi Yunani-Romawi di zaman modern, empat sungai utama di Tartarus, kisah tentang para peramal Delphi, juga tokoh-tokoh yang banyak sekali bermunculan dalam mitologi Yunani. Jika dulu kita kesulitan mengingat siapa nama dewa perang Yunani Kuno, percayalah setelah membaca seri ini pembaca akan langsung mempu menjawabnya tanpa harus berpikir dua kali. Luar biasa om Rick Riordan ini, dia mampu mengubah topik sejarah yang tragis dan membosankan menjadi sebuah kisah fantasi yang menawan. Keunggulan buku ini masih ditambah dengan penggunaan sudut pandang POV orang pertama, bergantian antar tiap bab. Tidak sembarang penulis mampu menulis dengan teknik ini tanpa mencampur adukkan antar karakter. Kerenlah kau Om Rick!

Secara editing, typo di buku ini sangat minim, terjemahannya juga halus sekali, dengan diksi-diksi pilihan yang maknanya cocok. Pemilihan kata “Gerha Hades” untuk menerjemahkan frasa “the House of Hades” adalah bukti betapa sang penerjemah dan editor begitu peka dan dinamis dalam menerjemahkan. Sebuah tema bagus, ditulis dengan luar biasa bagus, diterjemahkan serta diedit dengan rapi (dan diresensi secara elok #uhuk) terbukti menghasilkan sebuah karya yang tidak hanya seru dan luar biasa keren, tapi juga begitu akrab dan tak terlupakan bagi mereka yang pernah membacanya. 

REVIEW THE MARK of ATHENA

Kilas Buku: Heroes of Olympus #3, The Mark of Athena


Palembang, 10 November 2016


The Mark of Athena (edisi bahasa Indonesia)
Penulis: Rick Riordan
Tebal: 616 halaman
Terbit: 2012
Penerbit: Nourabooks

Sebelumnya saya mau bertakjub ria dulu ah. Suprise! Novel ini sudah diterjemahkan dan diterbitkan dan dipublikasikan secara massive oleh Mizan lho (Eh tapi kok yang nerbitin Nourabooks ya, padahal di Indonesia Book Fair 2012 tadi saya lihatnya di stand Mizan lho. ternyata Nourabooks itu brand baru Mizan). Padahal versi aslinya (bahasa Inggrisnya) baru terbit Oktober 2012 ini. Wow, cepet (ngebut) juga yah Mizan nerbitin serial Heroes of Olympus ini. Padahal tadinya saya agak skeptis hehe. Tapi bersyukurlah saya termasuk salah satu pembaca awal The Mark of Athena ketika ia dilempar ke pasaran Musim Gugur ini. Jadi Fresh from the oven laah. Dan kita tunggu serial keempatnya The House of Hades, apakah Mizan akan langsung menerbitkan versi bahasa Indonesianya juga sebulan setelah versi aslinya terbit? Kita lihat :)

Akhirnya setelah cukup lama berpisah, Percy dan Annabeth bertemu kembali, bukan di Camp Half Blood, namun di Camp Jupiter. Annabeth tiba di kawasan Camp Jupiter dengan menumpangi Argo II, kapal perang yang bisa terbang, bersama Jason (Demigod Roman / anak dari Jupiter yang sempat hilang ingatan dan didamparkan di Camp Half Blood), Piper (Demigod Greek / anak dari Aphrodite), Coach Hedge (Satyr yang menyamar sebagai pelatih olahraga) dan Leo (Demigod Greek / Anak dari Hephaestus yang juga pembuat dan kapten dari Argo II). Pertemuan dan reuni yang cukup singkat membuat 2 suasana yang berbeda sekaligus: gembira dan tegang. Gembira karena kembalinya Jason ke Camp Jupiter dan pertemuan Percy dengan Annabeth. Tegang karena Leo (yang ketika itu tubuhnya sempat dikuasai oleh Eidolons) menembakkan api ke arah Camp Jupiter yang kemudian menyulut kemarahan para demigods Romawi.


Di tengah ketegangan, Percy, Annabeth, Jason, Piper, Leo, Hazel (Demigod Roman / anak dari Hades), Frank (Demigod Roman / anak dari Ares), dan tentu saja Coach Hedge buru-buru melarikan diri dengan Argo II. Pada saat itu pulalah mereka dengan cepat memutuskan untuk menuntaskan tugas mereka menghentikan bangkitnya Gaea.

Annabeth adalah satu-satunya demigod yang mempunyai tugas lain disamping tugas utama mencegah Gaea bangkit. Ia harus mengikuti perintah ibunya untuk mencari Athena Parthenos yang hilang di wilayah Romawi (Italia). Berbagai halangan menerpanya ketika ia melakukan tugasnya sendirian. Seketika ia merindukan Percy yang mana kekasihnya itu pun tidak mampu menentang takdir untuk mendampinginya menjalankan petualangan. Dalam detik-detik kritis ia hampir kalah dalam menghadapi laba-laba besar musuh bebuyutan ibunya dan keturunan Athena lainnya.

Novel ketiga dari serial Heroes of Olympus karya Rick Riordan sekali lagi mampu mencengangkan para hati pembacanya. Saya sendiri kagum dengan daya imajinasi Riordan yang tinggi dan kemampuannya menyusun cerita fiksi dan menjadikannya tampak masuk akal. Semoga dalam The House of Hades (Buku keempat Heroes of Olympus) ia bisa mempertahankan gayanya bercerita.