Kamis, 10 November 2016

REVIEW NOVEL ALLEGIANT

NICA ROTH (#3 DIVERGENT TRILOGY)

Palembang, 10 November 2016


Image result for cover novel allegiant
Sudah lama rasanya saya tidak membaca novel lagi, terutama yang terjemahan. Ini buku keenam yang berhasil saya baca tuntas di tahun 2015, dari target-sok-saya di goodreads yakni 50 buku setahun *sigh*. Saya membaca novel ini selama 5 hari. Lumayan cepat jika saya bandingkan dengan kemampuan membaca saya dengan novel lain yang ketebalannya sama.
Kalau enggak salah harga novel ini 54ribu. Seingat saya dibeli dari Gramedia Solo bareng novel BUMI-nya Tere Liye. Dan entah karena apa saya baru tertarik membacanya setelah buku keduanya difilmkan. Betul, Insurgent.
Judul: Allegiant
Penulis: Veronica Roth
Penerbit: Mizan, Cetakan I Mei 2014
Penerjemah: Nur Aini dan Indira Briantri Asni
Tebal: 496 halaman
Penghargaan: New York Times Bestseller, Best Young Adult Fantasy and Science Fiction * Goodreads Choice Awards 2013.
Allegiant ini merupakan buku ketiga alias pamungkas dari trilogi Divergent. Ditulis olehVeronica Roth, orang New York yang sepertinya tinggal di Chicago. Kata dia sih, nulis trilogi ini dimulai tahun 2011, waktu dia masih kuliah, dan trilogi ini menjadi debutnya di dunia literasi. Hebat. Begitu dipublikasi, langsung melejit dan mengangkat namanya sebagai penulis muda yang cerdas.
Kalau kamu sudah baca buku keduanya, Insurgent, atau sudah nonton filmnya, tentu tidak asing dengan Tris, Tobias, Christina, Caleb, Peter, Uriah, dkk-nya itu. Novel ini ditulis dari dua sudut pandang, Tris, lalu Tobias alias Four secara bergantian. Kadang agak aneh memang, ketika sudah membaca di pertengahan, kemudian kamu bingung ini yang cerita ternyata si Tobias, bukan Tris seperti dugaan kamu sebelumnya. Nah, ganti-ganti sudut pandang setiap bab memang sedikit mengganggu bagi saya. Kecuali Veronica menulis beberapa bab awal untuk Tris lalu berikutnya baru Tobias, sehingga mungkin agak sedikit mendukung konsentrasi dan feel saya.
Di novel Allegiant ini kamu akan diceritakan kelanjutan perjuangan Tris dan kawan-kawannya untuk menyelamatkan kota simulasi mereka, Chicago. Jika di Insurgent akhir ceritanya menggambarkan orang-orang yang berbondong-bondong keluar kota, dugaan kamu salah. Dinovel Allegiant ini diceritakan bahwa kota telah dikuasai kelompok factionless, yang dalam sistemnya melarang orang-orang keluar kota dan justru memaksa mereka untuk tinggal, melanjutkan hidup dengan pemimpin baru. Lalu muncullah sekelompok pemberontak kecil yang membuat rencana keluar kota untuk menyelidiki apa yang sebenarnya berada di balik pagar kokoh pembatas kota mereka.
Apa yang mereka temukan di luar kota? Apakah memang hanya mereka manusia terakhir di bumi? Jawabannya ada di dalam novel ini. He-he.
Melalui Allegiant, Veronica menunjukkan kecerdasannya dalam menerapkan suatu metode penelitian laboratorium sederhana, dalam hal ini biologi, ke sebuah kehidupan manusia skala besar. Manusia diibaratkan sebagai objek eksperimen yang diberi perlakuan oleh peneliti sesuka mereka dengan dalih menyelamatkan gen manusia, untuk memperbaiki kehidupan.Simple idea but finally people worth it.
Novel ini bergenre fantasi, kata penerbitnya (mizan). Namun saya lebih suka menyebutnya dystopia. Ini saya kutipkan definisi dystopia atau distopia menurut wikipedia:
Distopia adalah masyarakat fiktif yang merupakan antitesis atau berlawanan dengan utopia. Masyarakat distopia umumnya hidup di bawah pemerintah yang totaliter atau otoriter, atau diawasi di bawah pengawasan sosial yang ketat dan menindas. Distopia biasanya terjadi pada masa depan bayangan atau sejarah alternatif, dan eksis akibat perbuatan manusia (merujuk kepada kesalahan yang dilakukan atau malah hanya merujuk kepada tindakan manusia yang sekadar berdiam diri dalam menghadapi masalah).
Cocok sekali dengan cerita dalam novel ini. Di goodreads, distopia pun sudah menjadi genre tersendiri. Jadi, tidak salah dong saya sebut novel ini bergenre distopia.
Jika diringkas, novel ini mengajarkan pada kita, melalui tokoh utama, Tris dan kawan-kawannya, tentang perjuangan, semangat, pengorbanan, cinta, kasih sayang, dan memaafkan. Dan sebagaimana novel pamungkas yang semestinya, novel ini memiliki bagian cerita yang mengguncang pembacanya, terutama penggemarnya yang sudah mengikuti jalan cerita dalam dua novel sebelumnya. Veronica Roth berani mengambil langkah tegas untuk ‘membunuh’ tokohnya. Bukan membunuh karakter yang saya maksud, tapi membunuh secara harfiah, yaitu menghilangkan nyawa. Padahal, pilihan seperti ini biasanya dihindari penulis, sebab akan mengecewakan pembaca yang sejak awal percaya bahwa tokoh ‘yang ini’ tidak akan mati alias hidup sampai akhir cerita, seperti misalnya Katniss pada buku terakhir The Mockingjay (Trilogy The Hunger Games). Namun, Veronica mengambil langkah besar itu, membunuh karakter dalam ceritanya, mungkin sebagian alasannya adalah untuk melawan arus mainstream penulis, sementara alasan yang lain, ia begitu percaya bahwa, ‘Pengorbanan yang sebenarnya adalah merelakan orang yang kamu cintai untuk mengorbankan dirinya sendiri’.
Penasaran siapa tokoh yang mati dalam Allegiant? Baca novelnya.
“Minggir, Katniss. Sekarang giliran Tris.” —USA Today.
Selamat membaca.

REVIEW NOVEL INSURGENT

Insurgent : #2 Novel of Divergent Trilogy



Palembang, 10 November 2016


InsurgentHC-jkt-des4
]Title                           : Insurgent
Author                        : Veronica Roth
Genre                         : Science fiction / Dystopian
Publication date         : May 1, 2012
Pages                          : 525
Insurgent adalah series kedua dari novel best seller trilogy Divergent. Menceritakan tentang masa depan Chicago yang berubah menjadi kota dengan masyarakat kota yang terbagi menjadi 5 faksi. (baca review sebelumnya disini)
Sinopsis :
Satu pilihan bisa mengubahmu, atau justru menghancurkanmu.
Gerbong kereta api yang membawa Tris, Four, Caleb, Peter dan Marcus meluncur di sepanjang rel menuju ke arah gerbang perbatasan. Gerbang yang membatasi masing-masing wilayah Dauntless dan Amity. Gerbang yang mengurung mereka untuk tidak pergi dari Dauntless. Gerbang itu kosong, tak ada penjaga yang biasanya berjaga disana. Four memasukkan kombinasi angka pada papan tombol yang ada, gerbangpun terbuka memasukkan mereka ke dalam kaum yang menjunjung tinggi perdamaian. Ke dalam kaum yang memutuskan untuk menjadikan markas besar kaum amity sebagai rumah perlindungan yang aman bagi setiap anggota dari semua faksi.
Tris melalui hari-hari yang sulit semenjak membunuh Will. Rasa bersalah menekannya, membuatnya sering memimpikan Will dalam tidurnya. Diapun tak berani mengatakan yang sebenarnya pada Four bahwa kekasihnya, Tris, telah membunuh salah satu sahabatnya dengan tangannya sendiri demi menyelamatkan nyawanya. Dia merasa bahwa terlalu banyak yang dirahasiakannya dari Four karena dia sendiri pun merasa bahwa Four menyembunyikan banyak hal juga darinya.
Tris berusaha untuk mempercayai Caleb. Baginya tidak mempercayai Caleb adalah kesalahan yang tak ingin diulanginya karena sekarang kakaknya itulah satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya. Untuk itulah ketika Caleb bertanya tentang hasil dari tes kecakapan, Tris mengatakan bahwa dia memperoleh 3 faksi sekaligus sebagai hasilnya, itulah kali pertama bagi Tris mengatakan tentang hasil tes kecakapan kepada orang lain.
Saat berada di Amity, Tris mengetahui bahwa Marcus menyimpan sebuah rahasia yang tak diketahuinya, sebuah informasi yang dipercayakan kepada faksi  Abnegation hingga mereka rela mempertaruhkan nyawa demi melindungi informasi itu. Termasuk ayah dan ibunya. Tris sekarang tahu bahwa Jeanine menyerang faksi Abnegation bukan demi kekuasaan tapi ternyata dia menyerang demi mencuri informasi, informasi yang hanya diketahui oleh faksi Abnegation. Bahkan saat Johanna, salah satu juru bicara Amity meminta dengan baik-baik untuk menceritakan tentag rahasia itu, Marcus menolaknya. Begitupun saat Tris memaksa Marcus untuk memberi tahunya tentang informasi rahasia itu.
Perwakilan dari Erudite yang datang tiba-tiba ke Amity memaksa Tris serta kaum abnegation yang berlindung di Amity untuk melarikan diri. Tris, Four, Caleb dan Susan memisahkan diri dari Abnegation lain dan berakhir di markas Factionless berkat nama asli Four, Tobias Eaton yang cukup berpengaruh di antara Factionless. Selanjutnya Tris mengetahui alasan kenapa Factionless mengijinkan Tris dan teman-teman berlindung di markas Factionless. Itu semua karena, pemimpin Factionless adalah Evelyn Eaton, ibu kandung Four yang dulu sempat dinyatakan meninggal tapi sebenarnya melarikan diri dari Abnegation dan lebih memilih untuk menjadi Factionless. Kepalsuan kematian Evelyn adalah satu hal lagi yang dirahasiakan oleh Four pada Tris di samping rahasia-rahasia lain. Tak seperti Four yang mempercayai Evelyn, Tris justru sebaliknya, dia mencurigai Evelyn merencanakan sesuatu untuk menghancurkan seluruh faksi.
Keberadaan Tris di markas Factionless tak bertahan lama karena dia harus pergi ke markas Candor untuk menyelidiki hal lain. Di markas Candor Tris bertemu kembali dengan teman-teman Dauntless setia yang tak ingin bersekutu dengan Erudite dan juga bertemu Christina, sahabatnya, kekasih Will. Di Candor pula Tris terpaksa harus mengungkapkan rahasia-rahasianya agar mendapat kepercayaan dari kaum Candor serta Dauntless yang lain. Dan di Candor pula, diputuskan bahwa Four menjadi satu di antara tiga orang yang menjadi pemimpin Dauntless. Four mempengaruhi Dauntless agar mau bersekutu dengan Factionless untuk menyerang Erudite, menghentikan rencana besar yang sedang disusun Jeanine, namun disisi lain, Tris tahu bahwa Factionless juga memiliki rencana besar lain yang tak diketahui Dauntless yaitu untuk menghilangkan faksi, dan membentuk sebuah negara tanpa faksi. Tris tak dapat menyetujui rencana itu, dan pada akhirnya dia membentuk sekutu lain untuk menghentikan Factionless, meskipun itu artinya dia harus mengkhianati Four, kekasihnya, dan mengkhianati faksinya, Dauntless. Tris sadar bahwa ternyata, Evelyn, dua kali lebih jahat dari Jeanine. Tris harus menyelamatkan Jeanine sebelum Jeanine dibunuh karena data yang dicuri dari Abnegation disembunyikan oleh Jeanine, jika Jeanine terbunuh, artinya data itu tak akan pernah diketahui, yang artinya lagi bahwa kehancuran benar-benar terjadi, Factionless akan berkuasa.
Namun akhirnya, data rahasia tersebut dapat disebar luaskan dan ditunjukkan kepada seluruh kaum meskipun Jeanine telah terbunuh, semua itu berkat kaki tangan Jeanine, yakni, Caleb Prior, kakak kandung Tris.
Review :
Insurgent adalah seri kedua dari Trilogy Divergent. Cover untuk Insurgent adalah simbol faksi Amity, faksi yang menjunjung tinggi perdamaian. Itu berarti menunjukkan bahwa inti dari Insurgent ini adalah untuk mencapai sebuah perdamaian, terbukti setelah membaca Insurgent, tujuan Tris adalah untuk menciptakan perdamaian, untuk menyelamatkan seluruh kaum, orang-orang yang disayanginya, termasuk dirinya sendiri.
Berbeda dengan seri pertama yang banyak menceritakan tentang proses inisiasi serta kisah antara Tris dan Four yang tengah dimabuk cinta tanpa konflik yang menggemparkan, di seri kedua inilah ditemukan konflik yang sebenarnya, bukan hanya masalah tentang perpecahan faksi namun juga tentang kepercayaan dan kesetiaan di dalam kisah percintaan Four dan Tris. Bagiku pribadi, Insurgent lebih memuaskan daripada Divergent, lebih dapat masuk ke dalam cerita juga banyak hal-hal yang tak terduga terjadi seperti Peter yang telah dianggap pengkhianat namun ternyata justru menyelamatkan nyawa Tris ketika Jeanine akan membunuhnya, dan membantu Tris serta Four melarikan diri dari Erudite. Serta tentang kenyataan bahwa ternyata Caleb yang selama ini melarikan diri bersama Tris dan Abnegation lain tanpa terduga justru kembali ke Erudite menjadi tangan kanan Jeanine dan membantu Jeanine menciptakan simulasi yang hampir membunuh Tris. Selain itu, emosiku sebagai pembaca lebih dimainkan ketika membaca Insurgent seperti kekesalan karena Tris sang karakter utama selalu bertindak ceroboh dan tak pikir panjang yang ternyata pada akhirnya terbukti bahwa berkat tindakan ceroboh Tris itulah akhirnya data rahasia yang selama ini disembunyikan akhirnya dapat ditunjukkan kepada seluruh kaum. Atau perasaan bersalah ketika harus menghadapi kekasih sahabat yang pernah dibunuh Tris. Bahkan ketika aku harus membalik lembar terakhir Insurgent ada perasaan marah, marah bukan karena cerita yang mengecewakan namun marah karena tidak sabar untuk membaca cerita selanjutnya.
Meskipun tidak terlalu menyukai Divergent namun aku bersyukur tetap melanjutkan membaca Insurgent atau aku akan terlewatkan kisah mendebarkan yang luar di Insurgent. Luar biasa, direkomensasikan bagi yang menyukai genre dystopia.
Pelajaran paling penting yang dapat diambil dari Insurgent adalah bahwa apapun yang terjadi kita harus percaya pada hati kecil kita seperti Tris yang meski dia mempercayai Four, kekasihnya tapi dia tetap melakukan apa yang hati kecilnya katakana termasuk membentuk sekutu untuk melawan Four. Selain itu juga bahwa dalam sebuah peperangan begitu banyak orang tak bersalah yang menjadi korban. Betapa kejamnya peperangan. Semoga dunia ini akan selalu damai.
Terdapat kalimat yang tak ku ingat persis kelimatnya namun aku ingat inti dari kalimat itu bahwa terkadang kita belum mengenal secara pasti seseorang yang kita kenal namun kita tetap memutuskan untuk mempercayainya. Hahaha, sangat sering ditemukan.
Novel yang mengagumkan, luar biasa, mendebarkan, dan candu.
Seri terakhir dari trilogy Divergent dikabarkan akan dirilis tahun ini tepatnya tanggal 22 Oktober. Semoga punya waktu untuk membaca dan membuat reviewnya^^
Seperti hewan liar, kebenaran terlalu kuat untuk dikurung. —Dari manifesto faksi Candor

REVIEW NOVEL DIVERGENT

[Resensi] Divergent


Palembang, 10 November 2016
Divergent
Judul Buku : Divergent
Pengarang : Veronica Roth
Penerbitan : 2011 oleh Katherine Tegen Books
Jumlah Halaman : 487
Ringkasan Cerita
Chicago masa depan. Keberadaan manusia dipisahan berdasarkan sifat yang dianutnya ke dalam 5 faction (golongan) yang berbeda. Ada Abnegation yang menganut selflessness (ketidakegoisan), Dauntless yang menganut keberanian, Erudite yang menganut pengetahuan, Candor yang meganut kejujuran, serta Amity yang menganut kedamaian. Kelima faction ini hidup rukun, dan masing-masing faction memiliki peran spesifik dalam kehidupan bermasyarakat.
Beatrice Prior dan keluarganya merupakan Abnegation, yang budayanya mengharuskan mereka untuk bertindak setidakegois mungkin, misalnya dengan selalu mengalah kepada orang lain, memakai baju abu-abu agar tidak menarik perhatian serta selalu siap untuk menolong dan mengabdi kepada orang lain. Sikap-sikap tidak egois ini membuat Abnegation ditunjuk oleh faction lain untuk memegang pemerintahan – teorinya adalah pemerintahan harus dipegang oleh orang-orang yang selalu bekerja berdasarkan kepentingan umum dan bukan untuk memenuhi ambisi pribadi. Semestinya para pejabat pemerintah dan wakil rakyat bisa mencontoh sifat ini dari Abnegation yaa, hahaha😀.
Diceritakan bahwa pada saat berusia 16 tahun, setiap orang akan mengikuti Choosing Ceremony untuk menentukan apakah mereka akan melanjutkan hidup difaction yang sama atau pindah ke faction lain. Pada tes yang dilakukan sebelum Choosing Ceremony untuk melihat kecenderungan sifat yang dianut seseorang, hasil tes Beatrice menunjukkan bahwa dia tidak hanya memiliki satu sifat yang menonjol, namun memiliki tiga: Abnegation, Dauntless dan Erudite. Orang-orang yang cocok di lebih dari satu faction disebut Divergent. Keberadaan seorang Divergent sangat jarang dan Beatrice diperingatkan untuk tidak menceritakan hasil tesnya kepada siapapun karena menjadi seorang Divergent sangatlah berbahaya.
Pada saat Choosing Ceremony, Beatrice memutuskan untuk meninggalkan keluarganya dan bergabung dengan Dauntless. Setelah memilih Dauntless pada Choosing Ceremony pun tidak berarti Beatrice bisa langsung menjadi anggota penuh Dauntless. Beatrice dan calon anggota Dauntless yang lain harus melalui proses inisiasi, dan dari 20 orang calon anggota hanya 10 orang yang akan lulus inisiasi dan berhak menjadi Dauntless. Sepuluh orang yang tereliminasi akan dikeluarkan dari Dauntless dan menjadi factionless, yaitu orang-orang yang tidak termasuk dalam faction manapun.
Setibanya di Dauntless, Beatrice mengubah namanya menjadi Tris. Hampir seluruh buku ini menceritakan proses inisiasi yang dilalui Tris dan teman-temannya. Dari belajar bertarung dengan tangan kosong, melempar pisau, hingga melalui fear simulation, yaitu simulasi yang menguji ketahanan para anggota terhadap ketakutan-ketakutan terbesar mereka.
Sementara di Dauntless para anggota berjuang untuk menjadi yang terbaik, di dunia luar mulai terjadi pergolakan, ketika para Erudite mulai mempertanyakan keberadaan Abnegation yang menjadi pelaku pemerintahan. Erudite mencba menghasut masyarakat dengan menyebarkan berita bahwa Erudite menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya. Hal-hal yang terjadi di luar mulai mempengaruhi kondisi di Dauntless serta pandangan Tris terhadap dirinya sendiri dan dunianya.
Ulasan
Sebelumnya, saya ingin mengatakan bahwa saya cukup iri karena sang pengarang, Veronica Roth, berhasil menerbitkan buku ini di usia 23 tahun! Wow! Dia berhasil menulis buku ini pada saat dia masih kuliah. Sirik banget deh :O
Dunia yang ditinggali oleh Tris merupakan sebuah dystopian future yang sayangnya kurang dibangun dengan baik. Pembaca diberi tahu alasan yang melatarbelakangi pemisahan masyarakat berdasarkan faction. Sayangnya, pemisahan berdasarkan sifat-sifat manusia merupakan ide yang saya pikir tidak masuk akal. Bayangkan saja. Orang-orang yang mengagungkan keberanian tidak menjunjung tinggi kejujuran. Atau orang-orang yang menjunung tinggi ketidakegoisan tidak mengagungkan kedamaian. Saya rasa masyarakat yang dipisahkan berdasarkan faction hanya dapat tercipta jika kita semua robot atau dicuci otak.
Tapi buku ini kan tidak menyatakan demikian. Orang-orang tergabung dalam suatufaction karena pilihan yang dibuatnya pada umur 16 tahun.
Divergent diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, sehingga pembaca diajak memasuki pikiran Tris, namun pola pikir dan kelakuannya tidak mengundang rasa simpati. Di akhir buku, saya sendiri sudah tidak peduli lagi pada nasib Tris di buku selanjutnya, maupun bagaimana kelanjutan hubungan antara Tris dan Four, instrukturnya yang ”misterius” dan berwatak keras.
Selain latar dan penokohan, salah satu kekurangan terbesar di buku ini adalah tidak dijelaskan mengapa menjadi Divergent itu begitu berbahaya. Di buku ini hanya diceritakan satu kelebihan menjadi seorang Divergent, yaitu kemampuan untuk memanipulasi simulasi. Sepanjang cerita, Tris diperingatkan oleh beberapa tokoh lain bahwa menjadi Divergent itu berbahaya karena banyak orang yang akan megincar nyawanya, namun tidak pernah dijelaskan alasannya.
Sebetulnya rasa penasaran terhdapa hal ini yang membuat saya bertahan membaca Divergent sampai tamat. Tidak terjawabnya pertanyaan tersebut membuat saya sangat frustrasi. Mungkin pertanyaan tersebut akan terjawab di buku kedua dari seri ini, Insurgent, yang baru terbit Mei tahun ini, namun saya sendiri sudah tidak berencana melanjutkan membaca seri ini. Saya sendiri tidak terlalu suka buku ini dan merekomendasikannya hanya jika ingin membaca buku yang mengandung banyak adegan laga namun tidak menguras emosi.

REVIEW KILL ORDER

The Kill Order


Palembang, 10 November 2016


Judul : The Kill Order (The Maze Runner #0.5)
Penulis : James Dashner
Tebal : 331 halaman
Penerbit : Chicken House

Before WICKED was formed, before the Glade was built, before Thomas entered the Maze, sun flares hit the earth and mankind fell to disease.

Mark and Trina were there when it happened, and they survived. But surviving the sun flares was easy compared to what came next.

Now a disease of rage and lunacy races across the eastern United States, and there’s something suspicious about its origin. Worse yet, it’s mutating, and all evidence suggests that it will bring humanity to its knees.

Mark and Trina are convinced there’s a way to save those left living from descending into madness. And they’re determined to find it—if they can stay alive. Because in this new, devastated world, every life has a price. And to some, you’re worth more dead than alive.
 


Review:
Jujur, saya agak malas bikin review buku ini. Soalnya pas kemarin saya selesai baca The Death Cure, saya berharap bisa dapat jawaban di buku ini soal asal mula segalanya. Tapi ternyata saya nggak dapat jawaban sama sekali. Saya malah dapat tokoh-tokoh yang sama sekali berbeda dan hampir tidak ada pembahasan soal The Glade. Cuma, saya merasa dilema. Mau bagaimanapun saya harus menilai dari sisi objektifnya juga. Buku ini nggak jelek, tapi nyebelin. Saya juga bingung mau bahasnya gimana.

Di bagian awal prolog, Teresa sedang merenungkan nasibnya bersama Thomas yang akan masuk ke dalam labirin. Ia bertanya-tanya apakah kehilangan memori itu sepadan dengan hasil yang akan dicapai dalam eksperimen WICKED. Di bagian ini, saya langsung merasa semangat. Asyik, nih. Rahasia akan terbuka.

Tapi ternyata itu cuma prolog yang tak penting.

Tokoh utama di buku ini bernama Mark dan Trina. Ya, iyalah harus sepasang. Kan ada cinta-cintaannya juga. Haha... Ceritanya mereka itu berhasil selamat dari Solar Flare terbesar sepanjang masa. Mereka berdua bersama beberapa teman seperjalanan bermukim di salah satu bagian hutan, berusaha bertahan hidup.

Mark ini ceritanya sudah bersahabat lama dengan Trina. Dia menyukai cewek itu sejak kecil dan merasa nggak percaya diri. Tapi gara-gara bencana yang terjadi, si Mark kejatuhan durian runtuh. Akhirnya ia bisa berduaan dengan Trina. Pikirnya, segalanya akan baik-baik saja. Walaupun ia sedih karena kehilangan keluarganya, setidaknya ia punya Trina. Hmm ... terus terang sih, saya agak kesal juga sama si Mark. Soalnya dia kayak biasa saja pas kehilangan keluarganya. Nggak ada nangis-nangisan atau apalah gitu. Si Trina juga cuma tempelan doang. Saya nggak tahu apa yang ada di kepala dia sepanjang buku ini. Mungkin memang sudah jadi gaya penulisan si James Dashner yang kurang membahas emosi para tokoh. Yang penting aksi, sisanya nggak penting.

Intinya, mereka lagi hidup damai dan tenang sewaktu sebuah Berg datang menembakkan semua orang dengan panah. Demi melindungi teman-temannya, Mark dan Alec pergi mengejar si penjahat. Si Alec ini adalah mantan tentara. Dia kelihatan yang paling berani dan mengerti hal-hal teknis. Mereka berdua berhasil menyusup ke Berg dan menemukan sedikit petunjuk. Ternyata panah yang ditembakkan adalah virus mematikan. Di sinilah awal dari virus Flare yang nantinya akan menjadi epidemi. Virus itu ditembakkan untuk melenyapkan setengah populasi bumi karena persediaan sumber daya yang ada tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dasar memang gila. Rencana apaan itu? Yang jelas virus yang katanya bisa langsung membunuh itu malah menyebar dan bertindak semaunya, tidak sesuai dengan perkiraan para ilmuwan.

Sewaktu akhirnya Mark dan Alec kembali ke pemukiman mereka, ternyata sudah banyak yang mati. Salah seorang teman mereka terinfeksi virus itu dan mulai bertingkah aneh. Katanya, ada yang memakan otaknya di dalam tempurung. Karena takut tertular, Mark dan teman-temannya yang masih hidup pun pergi dari sana. 

Dalam kebingungan itu, mereka berusaha mencari jawaban. Mereka sempat bertemu kelompok lain yang juga diserang seperti mereka. Mereka ketemu anak kecil yang imun, dikejar orang-orang gila, menyusup ke markas penjahat, diserbu para Crank. Novel ini penuh dengan aksi dan cukup seru. Ada hal yang bikin sedih juga, terutama sewaktu Trina lupa ingatan akibat virus tersebut dan saat Alec mati-matian melawan penyakitnya demi bisa menyelamatkan Deedee (anak imun yang dipercaya bisa menjadi kunci untuk menemukan obat). Keputusasaan Mark juga sangat terasa sepanjang novel ini. 

Saya suka dengan sedikit gambaran masa lalu Mark sewaktu Solar Flare pertama kali terjadi. Settingnya terjadi di dalam stasiun kereta bawah tanah dan itu keren banget. Saya bisa membayangkan dengan jelas saat air panas masuk dan menenggelamkan semuanya. Memang sih agak aneh karena masa lalu itu muncul dalam mimpi Mark. Masa iya mimpi bisa berurutan seperti itu?

Setelah satu buku penuh adegan tegang yang tidak jelas mau dibawa ke mana, epilognya malah menceritakan ibunya Thomas yang sedang sedih karena harus menyerahkan anaknya ke tangan para ilmuwan WICKED. Beneran, deh. Nyambung banget. -.-

Sebenarnya sih lumayan rame, cuma nggak ada hubungannya dengan labirin dan segalanya. Saya juga lumayan suka sama si Alec yang badass, tegas, dan pintar membuat keputusan dalam keadaan terpojok. Tua-tua begitu, si Alec tetap bisa mengalahkan sekumpulan tentara dan menang. 

REVIEW THE DEATH CURE

REVIEW NOVEL THE DEATH CURE (#3 OF MAZE RUNNER TRILOGY)

Palembang, 10 November 2016


Image result for cover novel the death cure

Hai, November. Bulan ketika hujan dirindukan. Terutama akhir-akhir ini.
The Death Cure, novel yang ditulis oleh James Dashner ini merupakan bacaan ke 14 saya di tahun 2015. Setelah film kedua serial Maze Runner muncul bulan Oktober kemarin (The Scorch Trials), saya langsung kepengin baca buku ketiga dari trilogi ini.
Sebagai novel pamungkas dari trilogi The Maze Runner, James Dashner seolah mati-matian mengerahkan keahliannya membingkai cerita dengan rasa full adventure di novel ini. Saya pernah menyebut kalau The Maze Runner Series merupakan novel pentalogi, ternyata keliru. Yang benar trilogi. Dua novel yang keluar setelah buku ketiga (The Death Cure) merupakan prekuel dari The Maze Runner Series.
Kalau kamu mengikuti cerita Thomas dkk dari awal, tentu sudah paham konflik besar dari trilogi ini. Namun, kalau kamu belum begitu mengikuti, saya tidak keberatan untuk menjelaskan sedikit.
Buku pertama bercerita tentang tokoh Thomas, Minho, Newt, dkk yang terjebak dalam sebuah tempat (Glade) dikelilingin oleh labirin (Maze). Mereka harus berjuang untuk keluar dari sana hidup-hidup dan mencari tahu kenapa mereka kehilangan memori dan kenapa seseorang menempatkan mereka di tempat itu selama nyaris 3 tahun. Setelah selamat, akhirnya mereka tahu bahwasannya mereka adalah subyek penelitian yang dijadikan percobaan untuk mencari tahu dan menemukan obat penyakit Flare. penyakit yang menyerang otak manusia. Penyakit ini muncul akibat badai matahari beberapa tahun sebelumnya. Dan mereka menjadi subyek untuk menemukan daerah pemulihan di otak mereka yang akhirnya digunakan untuk melengkapi cetak-biru dalam rangka menemukan obat tsb.
Buku kedua, The Scorch Trials bercerita tentang perjalanan Thomas dkk di tempat kedua setelah Maze. Di Scorch, mereka harus menjalani tes fisik. Menghadapi Crank (manusia gila yang telah terinfeksi Flare) dan berhadapan dengan cuaca yang sangat buruk. Semua tes tersebut dirancang oleh perusahaan bernama WICKED.
novel the death cure james dashner
The Death Cure – James Dashner
Berlanjut ke buku ketiga, The Death Cure, seakan tak ada habisnya, Thomas dkk masih harus menjalani tes lain. Serangkaian percobaan yang diterapkan pada mereka pada akhirnya membuat mereka berpikir bahwa WICKED adalah musuh bersama. Dan mereka harus terlepas dari WICKED.
Saya rasa ber-spoiler di sini tidak akan mengurangi nilai novel yang sedang saya review🙂. Kamu tidak akan terpengaruh hanya karena beberapa baris spoiler kan? Karena cerita yang utuh tidak akan pernah bisa diringkas.
The Death Cure dibuka dengan aksi kabur oleh para subyek, yakni Thomas dkk. Thomas, Minho, dan Newt sendiri baru lolos setelah Teresa dkk kabur lebih dulu. Awalnya Thomas dan Teresa berada dalam satu tim, tapi terpisah lantaran Thomas, Newt, dan Minho memilih untuk tidak menerima memori lama mereka, sementara Teresa dkk sebaliknya.
Lolos dari markas WICKED dibantu Jorge dan Brenda, Thomas, Minho, dan Newt bersama-sama pergi ke Denver, sebuah kota aman yang menerima manusia Kebal seperti mereka, dengan menaiki Berg. Manusia Kebal yang dimaksud adalah orang-orang yang kebal terhadap virus Flare. Cerita selengkapnya bisa kamu baca sendiri. *peace*
Mari bicara soal apa yang ingin diketahui orang dari buku terakhir suatu trilogi. Khususnya The Death Cure.
Buku ketiga biasanya menjawab pertanyaan yang muncul dari buku sebelumnya. Pertanyaan yang muncul adalah siapa WICKED, siapa Ava Paige, siapa Rat Man, dan siapa sebenarnya Thomas?
James Dashner memang punya cara unik dalam menyembunyikan informasi. Dan itu membuat saya amat penasaran. Atau mungkin lelucon yang bilang, “Bahkan penulis sendiri tidak tahu informasi yang dia sembunyikan dari pembaca.” Alias, penulis sengaja tidak menyertakan semua informasinya karena memang dia tidak mau berpusing-pusing dengan detail yang lebih rumit lagi. Atau kemungkinan lainnya, itu memang gaya menulis seorang James Dashner.
Seperti di Allegiant, di novel ini terjadi beberapa kematian mengejutkan. Bersiap-siaplah untuk merasa kehilangan, bagi penggemar tokoh cowok tersebut. Sementara kematian lain, adalah tokoh cewek.
Novel ini sebenarnya menonjolkan sisi persahabatan yang dituangkan dalam petualangan menegangkan. James Dashner sangat sukses membangun chemistry antara Thomas, Minho, dan Newt di novel ini. Di antara merekalah cerita persahabatan itu muncul. Namun, sayangnya James Dashner seperti kesulitan menempatkan tokoh lain seperti Teresa, Aris, Frypan, Gally, dll. Ada semacam usaha untuk menonjolkan Teresa, misalnya. Namun yang terjadi menurut saya tokoh tersebut tidak benar-benar hidup. Kalaupun dihilangkan dari awalpun agaknya tidak begitu berpengaruh (ups, saya keterlaluan).
Kalau ditanya apakah puas dengan buku ketiga, saya hanya bisa menjawab dengan bintang 3 dari 5. Terlalu banyak pertanyaan yang belum dijawab. Seandainya ada Veronica Roth di antara pembicaraan ini, dia akan bilang, “Pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab harus dijawab.”
Penggemar novel distopia dan adventure sangat saya rekomendasikan baca novel ini. Biar tidak susah memahami, akan lebih baik kalau baca buku sebelumnya, atau seenggaknya nonton filmnya dulu. Novel ini sangat bagus buat yang pengin belajar menulis adegan suspense.
Selamat membaca, Runner!

REVIEW THE SCORCH TRIALS

REVIEW NOVEL: THE SCORCH TRIALS (BOOK 2 OF THE MAZE RUNNER SERIES) – JAMES DASHNER

Palembang, 10 November 2016


Image result for cover novel the scorch trials
Ini adalah buku pertama dari James Dashner yang saya baca. Sekarang, usia penulis ini 42 tahun, lulusan akuntansi dengan total buku yang ditulis menurutwikipedia adalah 5 buku berseries (kurang lebih 23 buku). Khusus The Scorch Trials ini masuk dalam seriesnya The Maze Runner. The Maze Runner sendiri (buku pertama series ini) pada tahun 2011 memperoleh penghargaan sebagai ALA Best Fiction for Young Adults. Dan sudah difilm-kan tahun kemarin (seingat saya), pasti sebagian dari temen-temen blogger sudah nonton film tersebut. Sayangnya saya enggak sempat buat reviewnya.
The Maze Runner series#1 The Maze Runner (2009)
#2 The Scorch Trials (2010)
#3 The Death Cure (2011)
#4 The Kill Order (2012)
#5 The Fever Code (2016)
Untuk 5 series novel seperti itu, orang menyebutnya sebagai pentalogy. Buku ke 5 nya saja baru akan dirilis tahun 2016. Saya agak ragu semua novel itu akan diadaptasikan ke film. Namun, sebagai bocoran, The Scorch Trials ini sudah direncanakan akan rilis filmnya bulan September 2015. Nah, mungkin jika sutradaranya tetep kukuh menyulap semua cerita series itu menjadi film, menurut hitungan kasar saya, buku ke 5 mestinya sudah menjadi versi film pada tahun 2018. Itu pun kalau produsernya konsisten. Aktornya keburu dewasa, Dylan O’Brien alias Thomas jadi 27. Dan saya jadi berapa ya?😀
Judul: The Scorch Trials (The Maze Runner #2)
Penulis: James Dashner
Penerjemah: Meidyana Arrisandi
Penerbit: Mizan Fantasi, Cetakan 3, Oktober 2014
Tebal: 441
Ratings: Average 3,97. Saya 4. Dari 212,188 ratings dan 15,340 reviews.
Harga: Lupa, belinya di Gramedia Solo. Kalau di online Rp69.000
Saya spoiler-kan dikit isi novel ini (bagi yang belum baca).
Setelah selamat dari Maze (ending buku/film pertama), Thomas beserta kawan-kawannya (Glader) yang selamat, termasuk Minho, Newt, Frypan, ditempatkan dalam ruang seperti aula kumuh. Di sana, mereka diperintahkan oleh pihak-yang-belum-mereka-tahu-siapa-itu untuk mengikuti instruksi. Di dalam bangunan itu mereka bertemu anak baru bernama Aris, yang tidak mereka kenal sama sekali. Aris sebenarnya dalah Glader yang berasal dari Maze lain (selama ini ternyata ada 2 Maze, pertama yang dihuni Thomas dkk, kedua yang dihuni Aris dkk). Maze yang ditempati Aris berisi grup cewek. Dan menurut dugaan mereka, Teresa ditukar dengan Aris untuk ditempatkan di grup cewek yang entah berada di mana.
Buku ini bercerita petualangan dan perjuangan Thomas dkk di sebuah gurun yang disebut Scorch. Mereka mengalami serangkaian percobaan untuk bertahan hidup hingga akhirnya menemukan sebuah tempat yang disebut surga yang aman oleh seorang pria misterius yang menginstruksikan pada mereka sewaktu berada dalam aula kumuh.
Menurut saya, ini bukan murni novel dystopia. Ada unsur petualangan (adventure) dan science fiction di dalamnya. Beberapa sumber online juga mengategorikan novel ini sebagai young adult fiction. Nah, tinggal kalian lebih suka menyebutnya sebagai genre yang mana. Saya sendiri melihat novel ini kuat di genre dystopia dan adventure-nya.
Untuk dibaca, novel ini lumayan ringan. Meski terjemahan, kalimat-kalimatnya tidak bertele-tele. Mudah dicerna. Model penuturan (tidak berkaitan dengan terjemahan) yang saya rasakan di novel ini agak mirip dengan Dan Brown. Saya seperti membaca novel Inferno yang ditulis Dan Brown.
The Scorch Trials ini mengajak kita untuk mendatangi tempat-tempat baru, dengan misteri dan tantangan yang selalu tidak terduga, dan tentunya menyakitkan. Tidak ada permasalahan yang meminta bantuan kita (sebagai pembaca) untuk dipecahkan. Pembaca, sejauh yang saya dapat dari novel ini, hanya berhak menonton. Beda halnya dengan novel Veronica Roth (penulis Divergent), di novel Allegiant-nya, pembaca dihadapkan pada konflik yang memaksa untuk ikut memikirkan pilihan-pilihan dan jalan keluar. Sementara dalam The Scorch Trials, kita lebih banyak dituntut untuk berdoa semoga mereka (tokoh-tokoh yang usianya belum genap 20 itu) selamat.
Kalau kamu penggemar dystopia, jangan lewatkan untuk membaca ini. Terutama penyuka genre adventure dan science fiction. Nah, untuk sementara, penggemar romance tidak usah berharap banyak dari novel ini. Tidak ada adegan atau kata-kata romantis seperti yang menjadi ciri khas Veronica Roth. Singkatnya, menurut saya, novel ini agak gersang; sesuai setting cerita, dan sesuai dengan porsi cerita yang didominasi interaksi antara Thomas dengan kawan-kawan cowoknya. Tapi, saya berani beri bintang 5 untuk kejelian James Dashner dalam mendeskripsikan setting, kondisi tubuh tokoh, dan benda-benda mati, serta makhluk-makhluk aneh rekaan WICKED yang terasa nyata. Sedangkan, untuk keseluruhan saya memberi bintang 4.
“Mencekam … penuh aksi sinematik,” –Publishers Weekly.
Setelah buku ini, rencananya saya mau baca BULAN, Tere Liye (buku kedua dari serial BUMI).
Keep on reading, so you are alive!

REVIEW THE MAZE RUNNER

Resensi Novel; The Maze Runner – James Dashner


Palembang, 10 November 2016


Image result for cover novel the maze runner

Judul: The Maze Runner
Penulis: James Dashner
Genre: Fantasi, Dystopian Fiction
Jumlah Halaman: 532 Halaman
Penerbit: Mizan Fantasi
Penerjemah: Yunita Candra
Tahun: 2011
ISBN : 978-433-655-7
Buku ini adalah buku karya James Dashner, seorang penulis asal Georgia yang kini tinggal di The Rocky Moutains. Ia adalah seorang penulis #1 New York Times Bestselling Series, yaitu The Maze Runner, The Scorch Trials, The Death Cure, dan The Kill Order. Selain karya-karya berikut, ia juga menulis beberapa buku lainnya seperti The Eye of Minds, dan The Rule of Thoughts.
  
Maze Runner adalah salah satu dari seri bestsellernya. Buku ini bercerita tentang Thomas, sang karakter utama yang tiba-tiba dikirim ke sebuah tempat bernama Glade. Sesampainya di Glade, ia tak dapat mengingat apapun. Ia bahkan tak mengingat nama belakangnya. Satu-satunya yang dapat ia ingat adalah, namanya Thomas.
Glade mirip dengan sebuah pedesaan yang dikelilingi oleh dinding batu yang amat tinggi. Dinding-dinding itu dikelilingi lagi oleh maze. Lorong-lorong bebatuan yang rutenya berubah setiap malam. Dan tentu saja, dinding-dinding batu itu berada di sana dengan sebuah alasan. Entah itu untuk mengurung mereka– menjadikan mereka sebagai tahanan, atau… Melindungi mereka dari apapun yang ada di dalammaze. Di dalam buku ini, Thomas, bersama dengan para Glader yang lain menelusuri maze untuk mencari jalan keluar.
Buku ini adalah buku yang menarik. Sang pemeran utama mengidap amnesia, dan seiring berjalannya cerita, ia mencoba mengumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai Glade, Maze, dan alasan mengapa ia ditempatkan di sana. Tentu saja dengan begitu, informasi tidak langsung diberikan kepada pembaca, namun pembaca ikut mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Bukan hanya itu, setiap bab ditutup dengan sangat mengesankan. Akhir kalimatnya selalu membuat pembaca penasaran dengan kelanjutannya. Jujur saja, kalimat terakhirnya selalu membuat merinding. Dashner sangat-sangat sukses menempatkan cliffhangers dalam setiap bab ceritanya.
Dashner memiliki kemampuan untuk mendeskripsikan sesuatu dengan detil dan mudah dimengerti, namun menakjubkan. Bagaimana ia mendeskripsikan udara, langit, dan perasaan Thomas. Bagaimana ia mendeskripsikan respon, dan ekspresi wajah orang lain. Semuanya dilakukan dengan sangat mendetil. Hal ini tentu memudahkan pembaca untuk membayangkan situasi yang diceritakan.
Pengembangan karakter juga dilakukan dengan sangat baik oleh Dashner. Setiap karakter memiliki sifat dan khas tersendiri. Hal-hal ini bisa dilihat dari respon tokoh-tokoh dalam cerita ini terhadap suatu masalah, gaya bicara. Semua karakternya terasa hidup.
Namun, beberapa bab awalnya terasa sedikit membosankan. Bab-bab introduksi tersebut terasa agak bertele-tele. Membuat pembaca bertanya-tanya, “apa konfliknya?”. Akan lebih baik jika pengenalan terhadap latar tempat dan tokoh dilakukan seiring dengan munculnya konflik-konflik kecil.
Buku ini juga diangkat menjadi sebuah film dengan judul yang sama, yaitu The Maze Runner. Namun sayang sekali, filmnya kurang menarik. Beberapa bagian diubah, dan pengembangan karakternya kurang baik. Setiap karakter seperti memiliki sifat yang sama. Bahkan sang antagonis juga tak sejahat apa yang diceritakan di novelnya.
Tetapi, kembali lagi pada fokus utama kita, novel The Maze Runner adalah sebuah novel yang sangat baik dan menarik! Bisa dibilang, novel ini adalah salah satu novel favorit saya!